Senin, 17 Agustus 2020

Hanya Diam dan Tersipu

  Hari itu, entah kapan tanggalnya ku tak ingat, soalnya nggak sempat liat kalender. Pulang sekolah bel pun berbunyi, aku merapikan tas dan bergegas mengambil HP yang kusimpan di loker. Sepatu kupasang dari kaki kanan lalu kupasang lagi yang di kiri. Entah apa yang merasuki ku waktu itu, raga sudah lelah, namun perasaanku tetap saja bahagia. Ternyata ada sesuatu yang tidak kuduga akan terjadi kali ini. Kupamit dengan temanku yang sedang piket, "pulang deluanka' nah, assalamualaikum." ucap ku sembari memakai masker. Kulewati lapangan dengan langkah kaki yang begitu pelan. hari sudah sore namun matahari tetap saja panas, aneh hihih. Tangan kananku memegang tas laptop, sedangkan tangan kiriku menganggur tak memegang apapun. Kukira ini lucu, menulis kejadian yang menurutku ini tidak penting.

     Lanjut cerita, ku hentikan langkahku untuk singgah di toilet (kebelet hehe). Kuakhiri langkahku di pagar sekolah, tiba-tiba dering hpku berbunyi, ada yang menelfon rupanya. Segera ku mengambilnya dari saku bajuku, sekilas kaget namun tak percaya. Tumben dia menelfon, dia yang sekian lama tak menghubungiku, dan aku tak peduli dengan hal itu. Kuangkat telfonnya lalu berbicara dengannya. tak cukup 5 menit hanya kabarku yang ditanyakan, lalu ku diam setelah mendengar dia berucap "tungguka, mauka' jemputki adamka' di jalan.". telfonnya tiba-tiba mati, padahal ku belum mengatakan iya atau tidak. Tak lama kemudian, dia datang, menyapaku dari motornya "acha' kuy naik, jamber mi eh nacarikmki mamata'." (Mengambil tas laptopku lalu digantung di motornya), ku hanya diam dan mengikuti arahannya, bingung, malu, tak percaya, dan bahagia rasanya campur aduk. Ku coba memulai pembicaraan, dan bertanya-tanya kenapa, ada apa,dan bagaimana, tumben dia mau menjemputku. mengalihkan pembicaraan adalah gayanya, selalu saja dia melewati pertanyaanku, ku terdiam itulah caraku untuk mencoba menikmati perjalanan. penasaran dan heran adalah sifatku, rumahku tak searah meskipun berdekatan dengan sekolahnya. Entah kesambet apa itu anak (hihihi) yang kupikirkan pada saat itu hanya alhamdulillah akhirnya bisa sampai dirumah hihih.

    Di perjalanan, ku nikmati berbincang secara langsung dengannya, tanganku kubiarkan memegang bajunya dia tidak berkomentar apapun namun kulihat dari kaca spionnya senyum malunya itu tak berkutip wkwkwk. Akhirnya sampai ku di rumah dengan selamat. terlihat mamaku dan tetanggaku sedang duduk di teras rumah, beliau melihatku namun tidak menegurku. Kuturun dari motor dan kuambil tas laptopku, sempat dia mengejekku "jangan lupa kasih bintang 5 yah mbak," dan kujawab "iya mas, bintang 10 nanti kukasihkanki'." kami pun menertawakan diri masing". setelah itu dia pamit kepadaku dan mamaku, dia memutar haluan motornya dan bergegas pulang. Tetanggaku sempat menggodaku "ciee yang diantarnya sama pacarnya". (ucap mereka sambil tersenyum). Ku hanya diam dan tertawa. ku lepas sepatu dan segera masuk ke dalam rumah. Sungguh ini sangat membuatku bingung tapi juga bahagia, entah apa yang telah terjadi aku tidak terlalu memikirkannya, nanti ndak bisa gemuk kalo dipikirin hihiih. 

Tidak terlalu berharap adalah caraku mengatasinya, hanya menikmati alurnya yang menjadikanku ingat akan kenangannya. sekian:)